Rabu, 12 Mei 2010

renungan pagi kristen - Kisah Wilma Rudolph

(renungan pagi kristen)
Wilma Rudolph, lahir dari keluarga yg sangat miskin 23 Juni 1940, di-Tennesee, USA. Anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ayahnya hanya seorang porter KA / kuli angkut barang & ibunya hanya tukang masak & cuci baju tetangga. Hidup mereka benar2 miskin.

Saat usia 4 tahun, ia menderita radang paru2 & demam tinggi yg menyebabkan kakinya lumpuh karena polio. Orgtuanya tak mampu membeli obat karena waktu itu Amerika masih ada rasiaiisme yg membuat org2 kulit hitam mendapatkan perlakuan buruk dlm kesehatan & pendidikan. Akhirnya, la harus menggunakan kruk/penyangga & dokter menyatakan bahwa kakinya akan lumpuh selamanya. Tetapi ibunya terus berdoa pd TUHAN & memberi keyakinan pd Wilma bahwa ia pasti normal kembali. Di-saat yg buruk, kakinya yg lumpuh semakin mengecil & hanya terjuntai ke-bawah tak bereaksi apapun. Namun Wilma terus mengucapkan kata2 iman & berkata "Aku akan menjadi wanita tercepat di-dunia di-lintasan lari." & ia terus mencoba berdiri, walau sdh ribuan kali ia mencoba & jatuh. Ia tak menyerah.

Pada usia 9 tahun, ia nekat melanggar nasehat dokter & membuang tongkatnya & melakukan langkah pertama yg menurut dokter2 takkan pernah dapat dilakukannya. Selama 3 tahun ia terus mencoba melangkah, berjalan & berlari. Pada usia 13 tahun ia mengikuti lomba lari pertama kalinya & menjadi peserta satu2nya yg berkaki tak sempurna. Ia kalah. Tapi Wilma terus melaju. Ia terus bertanding di-ratusan lomba & mengalami ratusan kekalahan. Hingga suatu hari ia berhasil menang lomba lari dlm satu kejuaraan Provinsi yg membuatnya berhasil meraih beasiswa di-Tennesee State University & mempertemukannya dgn seorang pelatih atletik bernama Ed Temple.

Wilma berkata pd Ed "Saya ingin menjadi wanita tercepat di-lintasan atletik dunia." Dibawah bimbingan Ed, Wilma terus berlatih siang malam, mengatasi berbagai rintangan, bertanding dalam ratusan lomba & terus melaju hingga akhirnya Sejarah mencatat, pada Olimpiade tahun 1960, Wilma Glodean Rudolph, Seorang wanita kulit hitam pertama yg pernah menderita polio & lumpuh, akhirnya menjadi juara Olimpiade & memenangkan 3 medali emas di-lintasan lari 100 meter, 200 meter & estafet 400 meter & menjadi wanita tercepatdi-dunia di-lintasan lari.

Senin, 10 Mei 2010

renungan pagi kristen - Filosofi Dasar Dalam hidup

(renungan pagi kristen)
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.

Ini semua dapat diartikan :
supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.
Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras hati & berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi.

Minggu, 09 Mei 2010

renungan pagi kristen - PASTI BERES

(renungan pagi kristen)
“Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf,...” Kejadian 39:6

Sejak Potifar ‘kepala pengawal raja Firaun’ menyerahkan segala miliknya pada kekuasaan Yusuf, maka berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang ada di rumah, pekerjaannya, maupun ladangnya.

Orang Kristen hari ini juga dapat menemukan berkat rohani, bila saja ia mau menyerahkan semua miliknya dalam tangan ' Yusuf yang lebih besar ', Tuhan Yesus Kristus ! Perhatikan Kejadian 39:4 ini: segala milik Potifar diserahkan pada kekuasaan Yusuf. Yusuf layak mendapat kepercayaan Potifar; diserahkannya segala miliknya, keuntungannya dan segala persoalannya kepada Yusuf.

Apakah kau secara pasti sudah menyerahkan rumah tanggamu, bisnismu dan segala milikmu pada Kristus ?

Setelah Potifar menyerahkan segalanya dalam kekuasaan Yusuf, Potifar tidak lagi ikut mengurusinya. Kadang-kadang dalam prakteknya hal ini merupakan sesuatu yang paling sulit untuk dikerjakan.

Mungkin juga engkau telah menyerahkan pada Tuhan segala problem dan rencana yang membebanimu; tapi ketika perasaan kuatir meneror dirimu, kau segera mengambil kembali beban itu dan menariknya dari tangan Tuhan; maka persoalanmu makin menjadi berat dan kecemasanmu menjadi-jadi.

Saat ini Juruselamat itu berkata lagi, “ Serahkan persoalan itu ke dalam tanganKu !” Yesus cukup untuk segala keadaan dan problema; Dia sanggup menyelesaikan. Dia ingin kita menyerahkan segala yang kita miliki, kesusahan atau kesenangan ke dalam penguasaanNya. Dia akan mengampuni semua dosa, menyucikan hidup kita dan melenyapkan segala ketakutan. Dia menunjukkan jalan dan memberi jaminan sepenuhnya. Dia akan mengubahkan segala perkara, tak ada yang mustahil bagiNya. Keadaan yang jelek jadi baik, semua pasti beres di tanganNya !
Mereka yang percaya Allah, dapat menyerahkan segalanya dalam tanganNya !